Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Pasar Tradisional di Jepang.Jika di Indonesia bisa seperti ini



Sebenarnya sih ini bukan pasar yah karena penjual disana adalah para petani yang membuka lapak sendiri-sendiri untuk menjual hasil kebunnya yang tersisa (kebanyakan).

Dan kalau dilihat, tidak ada bedanya dengan pasar yang ada di Indonesia, kecuali satu perbedaannya yaitu tidak ada orang yang menjaga untuk lapaknya tersebut.



Jadi bagaimana transaksinya? mudah kok, mereka (si penjual) telah mencantumkan harga di setiap barang dagangannya dan apabila ada pembeli yang datang untuk membelinya, si pembeli cukup masukkan uang seharga barang yang dibeli ke tempat yang telah disediakan.

Dan percaya atau tidak, boleh dibilang hampir tidak ada satupun petani yang rugi karena berdagang dengan cara sepeti ini. Atau dengan kata lain, semua pembeli selalu membayar apa yang mereka ambil.



Nah, ini dia sebenarnya yang ingin kami bahas, yaitu KEJUJURAN yang menurut kami saat ini semakin langka di dunia, terutama di Indonesia.

Kami sempat membaca berita bahwa ada sekolah menengah di Indonesia yang mendirikan "kantin kejujuran" dan hanya dalam waktu hitungan minggu, kantin tersebut bangkrut karena ternyata banyak siswa/ siswi yang tidak membayar sehabis makan.

Padahal di lain sisi, kantin itu berada di salah satu sekolah favorit di daerahnya yang berarti pasti sebagian besar siswa/ siswi disana dari golongan cukup mampu.



Mohon maaf kalau kami tidak sependapat dengan anggapan bahwa "orang yang tidak jujur itu pasti identik dengan orang miskin" dan karena mereka tidak punya uang makanya mereka berbuat tidak jujur.

Menurut kami, KEJUJURAN bukanlah sesuatu yang bisa diukur dari banyaknya materi maupun tingkat pendidikan tetapi lebih ke moral dan rasa malu yang bisa ditanamkan oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.

Dalam hal ini, kita tidak harus selalu mencontoh teknologi yang berasal dari Jepang saja tetapi tidak ada salahnya kita juga mencontoh moral dan rasa malu yang mereka miliki.

Benar, tidak semua orang Jepang disana jujur tetapi setidaknya kalau bicara persentase, tentu jauh lebih baik dari negara kita. Setuju kan dengan kita? 

Jumat, 17 Mei 2013

Kesalahan dalam membesarkan anak


KOMPAS.com - Jadual kerja yang padat, dan problema sehari-hari, seringkali membuat orangtua sulit bertemu anaknya. Tak jarang, anak-anak ditinggal bersama pengasuh atau dititipkan ke kakek-neneknya. Ketika hal ini terjadi, tak ada yang bisa memastikan anak akan mendapatkan pelajaran mengenai moral, atau nilai-nilai yang menjadi pegangannya dalam hidup bermasyarakat. Anda mungkin tak menyadari, namun ada hal-hal yang seringkali lalai kita ajarkan pada anak:

1. Memanjakan anak
Bukan rahasia lagi, para orangtua mencintai anak-anaknya dan ingin mereka mendapatkan segala yang tak mereka miliki di masa kecilnya. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk perlakuan seperti ini. Tak sedikit orangtua yang bermaksud baik untuk anak-anaknya malah berujung memanjakan anak-anaknya ke tingkat sampai si kecil tidak bahagia dengan apa yang ia miliki. Ini akan menghasilkan anak yang tak pernah puas, dan selalu meminta lebih. Padahal, umumnya, si kecil bukannya ingin punya selemari mainan, tetapi waktu untuk bersama orangtuanya. Jika orangtua terus memanjakan anaknya, bagaimana mereka akan belajar menerima kekecewaan dalam hidup di masa depan? Atau bagaimana mereka akan belajar bersyukur atas apa pun?

2. Kekurangan disiplin
Ketika Anda terlalu malas untuk mendisiplinkan anak, Anda menciptakan “monster cilik” untuk mengganggu kerabat, guru, orangtua teman-temannya, dan siapa pun yang kenal dengannya. Adalah hal yang tak benar jika membiarkan si kecil menggunakan perabot rumah sebagai tempatnya bereksperimen. Berlompatan, berlarian, merusak barang, membuat keadaan rumah seperti kapal pecah, atau membongkar barang seenaknya. Mereka seharusnya bisa bertingkah sopan dan tenang, baik di dalam maupun di luar rumah. Anda tak mau, kan, anak Anda menciptakan kekacauan di rumah temannya? Jika bukan Anda yang mendisiplinkan si kecil, orang lain mungkin akan melakukannya, dan Anda tak akan suka hal ini.

3. Tidak mengajarkan tanggung jawab yang cukup kepada si kecil
Anak-anak seharusnya tidak menunggu imbalan ketika mereka harus melakukan pekerjaan di rumah. Tempat tinggal mereka adalah rumah, bukan hotel. Mereka seharusnya menyadari bahwa itu adalah tempat tinggal bersama, dan ada tanggung jawab untuk menjaganya tetap bersih dan nyaman. Jika mereka tumbuh tanpa tanggung jawab yang cukup, bagaimana mereka bisa bertanggung jawab ketika mereka bekerja nanti? Atau bagaimana mereka bisa menyelesaikan kuliah yang butuh kemandirian, dan mempertanggungjawabkan uang orangtuanya?

4. Bukan pasangan terbaik
Seperti kita ketahui, anak mencontoh orang dewasa di dekatnya dengan sangat baik. Bagaimana Anda dan pasangan bertingkah di depan si kecil adalah hal yang penting. Tanpa kita sadari, perilaku dan tingkah kita terhadap pasangan akan dicontoh anak dalam memperlakukan pasangannya di masa mendatang. Bagaimana Anda memanggil, berteriak ketika bertengkar, atau membelai lembut, akan menjadi pembelajaran mereka. Anak belajar lebih banyak lewat pandangan mereka ketimbang lewat pendengaran. Jika Anda memperlakukan pasangan Anda dengan cinta dan hormat, ini juga akan menunjukkan kepada anak-anak Anda nilai sebuah keluarga. Hal ini akan membantu mereka merasa bahwa keluarga merupakan tempat bernaung dan nyaman, di luar dunia yang terlihat gelap dan menyeramkan.

5. Ekspektasi berlebihan
Ketika berjanji kepada anak-anak, Anda harus menge-set ekspektasi yang masuk akal, terutama ketika berhadapan dengan yang masih amat kecil. Jangan berharap berlebihan kepada si kecil. Misalnya, agar si kecil bisa duduk diam ketika Anda pergi ke restoran. Jangan juga mengharap anak laki-laki Anda ikut tim basket, padahal ia lebih senang ikut marching band. Akan lebih baik jika Anda mampu mengenali kelebihan anak, dan membimbing mereka untuk mengekspresikan dirinya dalam bidang tersebut.

6. Terbiasa dilayani
Jangan biarkan anak tumbuh menjadi anak yang cengeng. Anak-anak jaman sekarang terbiasa dibantu dan dilayani dalam segala hal. Dari membersihkan kamar hingga memasang plester. Karena terlalu sering dilayani, anak-anak sekarang menjadi kurang ajar. Mengajarkan mereka untuk bertahan melewati masa susah, atau sakit, akan membuat mereka lebih kuat. Ajarkan mereka untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan si Mbak. Hal ini bukan berarti Anda tidak mencintainya. Justru karena mencintainya, Anda ingin mereka bisa mandiri.

7. Memaksakan tren kepada anak-anak
Biarkan anak-anak menjadi anak-anak. Orangtua seharusnya tidak mendorong tren kepada anak-anak. Karena Anda tidak berhasil menjadi juara lomba kecantikan di masa kecil, bukan berarti Anda bisa membuat si kecil mengikuti dan memenangi kontes-kontes seperti itu. Mengajarkan anak soal gairah dan tujuan memang baik, tetapi biarkan mereka tumbuh menjadi apa yang mereka mau. Si kecil sudah cukup merasakan kesulitan untuk tumbuh besar di lingkungan yang penuh tekanan, jadi jangan paksa mereka menjadi seseorang yang Anda impikan terjadi pada Anda dulu.

8. Pembangkang
Ini termasuk hal yang sulit dilakukan. Jika Anda mengultimatum si kecil dengan hukuman jika melakukan kenakalan, lakukan jika ia melakukan kenakalan tersebut. Meski berat, namun hal ini penting untuk menunjukkan kepada si kecil bahwa Anda serius dengan perkataan Anda. Jika tidak, omongan Anda hanya akan dianggap sebagai angin lalu. Ujung-ujungnya, anak-anak tak akan menaruh kepercayaan lagi pada orangtuanya.
sumber : http://forum.indowebster.com/showthread.php?t=86366

Rabu, 01 Mei 2013

10 kunci sukses membina rumah tangga


 
1. Jangan melihat ke belakang terutama dengan membandingkan dengan masa lalu. Hidup adalah kenyataan hari ini dan bukan di masa lalu.

2. Berpikir objektif dan positif
Jangan pernah su'udz zhan, dan berburuk sangka. Sikapi masalah dgn bijak dan penuh hikmah.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki.

4. Saling percaya
Tanpa rasa saling percaya antara pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Membangun rasa saling percaya juga merupakan perwujudan cinta yang dewasa.

5. Memenuhi Kebutuhan Seksual
Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Anda berdua.

6. Hindari pihak ketiga
Kehidupan perkawinan merupakan otonomi tersendiri, yang sebaiknya tak dicampuri oleh pihak lain, apalagi pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga yang ikut campur tangan atau mempengaruhi dan masuk ke wilayah otoritas keluarga, bisa menciptakan bencana bagi rumah tangga tersebut.

7. Menjaga romantisme
Terkadang, pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran.

8. Adakan selalu komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga.

9. Saling memuji dan memperhatikan
Pasangan Anda perlu untuk dihargai. Memuji tak butuh biaya atau ongkos mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan.

10. Sertakan sakralitas dalam rumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Karena itu, jagalah kesakralannya.

Semoga kita termasuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiin
sumber : https://www.facebook.com/pages/Buah-Hatiku/413467275392334?ref=stream&hc_location=stream

Minggu, 28 April 2013

Pidato wisudawan terbaik, memukau sekaligus "Menakutkan"

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRuF3cehLHVUJ1hXwkdy5eaFEKUljJYzCiLUHxvkW6uRevUYze3  Setiap acara wisuda di kampus selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus tersebut, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan di Indonesia, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).

==========

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

===========

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda?
Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”.
Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain.
Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata.
Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah.
Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa.
Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang.
Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain.
Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni kuliah di Indonesia yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal.
Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal.
Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita.
Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah.
Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya.

Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

INSPIRATIF...?? LIKE & SHARE IT......!! ^^

sumber : http://youtu.be/e8R7bz6sdHs

Kamis, 25 April 2013

Aku Menangis Untuk Adikku 6x" Kisah Sedih Mengharukan



Rabu, 24 April 2013

Perjuangan Tiga Bocah Rimba Belajar Membaca

Ditulis oleh Sukmareni   
Jumat, 22 Juli 2011 12:04


“Kamia Ndok Pintar”
Memperoleh pendidikan sangat sulit bagi sebagian anak-anak warga Suku Anak Dalam (SAD). Anggota lembaga konservasi Warsi menceritakan perjuangan anak-anak rimba itu. Seperti apa? Berikut laporan Sukmareni, anggota tim Warsi kepada Jambi Independent.
Hari beranjak siang ketika tim Warsi, Karlina -guru rimba dan Abdi —pendamping Orang Rimba-- serta tamu dari Jakarta, meninggalkan Simpang Dialas, kawasan hutan tempat Kelompok Orang Rimba Terap, pimpinan Tumenggung Marituha hidup bersama anggota kelompoknya. Karin -sapaan guru rimba-- minggu lalu mendapatkan tugas untuk mengajar di kelompok itu.
Hanya beberapa hari karena ia harus memfasilitasi anak-anak rimba di Kedudung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD)-- sekitar tiga jam berkendara dari simpang Alas, untuk mengikuti sekolah kelas jauh.
Kala meninggalkan kelompok itu, 10 orang rimba dewasa mengawal tim Warsi hingga ujung kawasan HTI Wana Perintis. HTI Wana Perintis merupakan HTI yang menurut klaim adat Orang Rimba merupakan wilayah hidup mereka. Klaim ini juga yang belakangan sering menimbulkan konflik antara Orang Rimba dengan pihak perusahaan. Pengawalan yang dilakukan Orang Rimba, mereka ingin memastikan tim Warsi dapat keluar dengan selamat, seiring dengan memanasnya konflik Orang Rimba dan pihak penguasa HTI.
Tanpa mereka sadari, di bagian belakang, tiga bocah rimba Kalitap (10), Besiap Bungo (7) dan Moruya (9), membuntuti mobil yang berjalan pelan itu di jalan tanah yang di kiri kanannya sudah gundul, karena land clearing yang dilakukan perusahaan. Namun tetap saja langkah kecil mereka tertinggal dan kehilangan mobil buruan mereka.
Ketiga bocah itu tetap berjalan hingga malam menjelang. Di dekat pabrik sawit PT Emal, sekitar 10 jam jalan kaki dari tempat tinggal mereka, ketiga bocah memutuskan untuk istirahat. Bekal mi tiga bungkus dan dua bungkus roti  yang mereka bawa, menjadi menu mereka malam itu. Di bawah pepohonan sawit ketiga bebudak -sebutan orang rimba untuk anak-anak-- itu tertidur di atas tanah beratapkan langit, sarung yang mereka bawa menjadi pembungkus tubuh dari serangan angin malam. Untung saja malam itu tidak turun hujan. 
Keesokan paginya, ketiga budak rimba bersepakat untuk melanjutkan perjalanan seusai sarapan pagi dengan sisa roti semalam. Tujuan mereka satu, bertemu lagi dengan tim Warsi untuk melanjutkan pelajaran mereka tempo hari.  Ketiga bocah beriringan, terus menelusuri jalanan kebun sawit dan kemudian masuk ke desa hingga akhirnya setelah empat jam mereka berjalan sampailah mereka di Pauh, tepi jalan besar yang menghubungkan Sarolangun-Jambi. 
Di sana, ketiga bocah mencoba meminjam telpon kepada seorang kenalan yang ditemui di Pauh. Mereka mencoba menelpon Fadli-pengemudi-- Warsi yang membawa tim Warsi.  Selama di Simpang Alas, hanya nomor Fadli yang bisa dihubungi, sehingga anak-anak ini hanya mencatat nomor Fadli. Namun apa daya, sinyal yang hilang timbul menyebabkan mereka tak pernah tersambung dengan tim Warsi.
Sejenak ketiga bocah itu bimbang bagaimana cara menemukan tim Warsi, sementara di sisi lain mereka tidak mau kembali ke rombongannya, mereka tetap ingin “tokang” (pandai) membaca, menulis dan berhitung. Selama ini, memang ketiga bocah itu termasuk murid-murid yang yang diajarkan Warsi sejak 2008 silam, ketika sudah ada kesepakatan dengan Tumenggung untuk adanya pendidikan di kelompok Terap. Terap merupakan kelompok Orang Rimba yang baru pada 2008 silam mau menerima pendidikan alternatif yang diberikan Warsi.
Namun keterbatasan tenaga pengajar dan banyaknya kelompok Orang Rimba yang harus dijangkau Warsi, kelompok ini, dikunjungi hanya beberapa hari dalam sebulan. Sementara di sisi lain, anak-anak rimba di kelompok ini sangat bersemangat untuk dibekali pengetahuan tentang huruf dan abjad serta merangkainya menjadi kata. Ini juga yang membawa Kalitap dan dua rekannya untuk menyusul tim Warsi supaya mereka bisa diajarkan kembali, hingga mereka mahir membaca dan menulis serta berhitung.
Perburuan mereka yang gagal menemukan tim Warsi di hari kedua, di tengah keraguan dan perjalanan panjang yag telah mereka tempuh, Moruya mengambil komando. “Awak ka SPI, mungkin kanti yoi di sana (kita ke SPI mungkin mereka di sana),” ujar Maroya dan langsung diiyakan oleh Besiap. Walau mereka tahu, pilihan itu mengharuskan mereka berjalan sangat jauh. Pauh-SPI jika menggunakan kendaraan roda empat, menghabiskan waktu tiga jam perjalanan, apalagi jika berjalan kaki.  
Namun semangat “kamia ndok pintar” kembali menggerakkan langkah kaki anak-anak ini menyusuri jalan desa, hingga sore menjelang mereka sampai di Simpang PT Emal—perkebunan sawit, sekitar 10 km dari Pauh. Di sebuah pos ronda ketiga bocah ini bermalam. Tidak ada makan malam hari itu, dengan perut kosong ketiga bocah ini melelapkan mata. Bagi Orang Rimba, sudah terbiasa untuk tidak makan seharian, masa remayo (masa paceklik) sering kali menghampiri kehidupan mereka terutama sejak semakin tipisnya sumber daya alam untuk mendukung kehidupan mereka.
Keesokan paginya, ketiga bocah itu kembali berjalan, beruntung di tengah jalan ada yang memberi tumpangan. Di bak terbuka sebuah Colt Diesel, senyum para bocah ini mengembang, harapan mereka untuk bertemu tim Warsi hampir jadi nyata. Dua kali mereka berganti tumpangan dan kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki, Sabtu (17/7) lalu, jam 8 malam akhirnya ketiga bocah ini sampai di kantor lapangan Warsi.
Abdi yang paling akrab dengan rombong Terap ini, tertegun melihat kehadiran ketiga bocah yang sudah tiga hari lalu dia tinggalkan. Malam itu, ketiga anak ini disuguhi makanan, dan disuruh istirahat di dalam kantor lapangan.  Ketika mereka masuk ke dalam kantor, mereka malu dengan tas butut yang mereka bawa, dan memilih meninggalkannya di luar kantor, hanya mengambil isinya, sarung dan benda yang terbungkus dalam sarung itu. “Ketika dia berjalan itu, sarungnya terlepas dari genggaman Besiap, sehingga buku dan pena dalam sarung itu berceceran, saya benar-benar terharu, ternyata mereka menyusul kami karena masih ingin belajar,” sebut Abdi. Tak ada baju yang mereka bawa, hanya sarung dan buku serta pena.
Terbukti malam itu, ketika disuruh masuk ke kamar, anak-anak itu malah menyodorkan bukunya pada Abdi, dan meminta Abdi untuk mengajari mereka membaca. “Meski sudah menempuh perjalanan jauh dan tidak makan dua hari, mereka masih mau belajar, ya jadilah kami belajar hingga larut,” ujar Abdi.
Karena keesokan harinya Abdi ada keperluan ke Jambi, Abdi tidak tega untuk tidak memenuhi keinginan mereka belajar, sementara Karin sudah harus menjalankan tugasnya di kelompok lain. Ketiga anak ini pun dibawa ke Jambi, tentu sebelumnya Abdi sudah menanyakan kepada anak-anak ini apakah orang tuanya sudah di kasih tahu. “Kamia dah cakopkan ka induk, ndok pergi belajor (kami sudah izin pada induk, kami mau pergi belajar,” sebut Besiap. Jadilah ketiga bocah itu nangkring di boncengan Abdi menempuh perjalanan panjang enam jam bersepeda motor.
Mengapa mereka mau jauh-jauh belajar sampai ke Jambi? “Kamia ndok pintar, jiko dapat surat dari Ationg (staf HTI Wana Perintis yang sering berhubungan dengan Orang Rimba terap, red) kami depot beco,” kata Moruya mantap, meski ia masih mengenakan baju yang dipakainya sejak minggu lalu.
Ketika tengah belajar, telepon genggam Abdi berdering, ternyata di sebrang sana, kakak Besiap Bungo mengkhawatirkan adeknya. Abdi pun menyatakan, mereka baik-baik saja dan akan mengantar mereka kembali ke Terap pada hari kamis, kemudian menyerahkan telepon itu pada Besiap. Dengan enggan Besiap mengambil telepon itu dan berbicara sepatah dengan kakaknya, seolah ia takut disuruh pulang dan kemudian meninggalkan pelajarannya. Selama empat hari di Jambi, ketiga bocah itu belajar tiada henti. Bahkan ketika malam sudah larut, Besiap masih sibuk menulis di selembar kertas, rupanya ia tengah menulis surat untuk Abdi.
“Abedi..selama tinggal, Kamis kamia ndok balek, tolong jaga hutan rimba kamia,” demikian isi kertas yang ditulis Besiap yang ditempelkannya di pintu kamar Abdi tempat mereka menginap selama di Jambi.
Sungguh semangat belajar yang patut diacungi jempol dan ditiru anak-anak lainnya, terutama yang memiliki fasilitas lengkap dan mudah mengakses pendidikan. Bagi Orang Rimba pendidikan masih baru, apalagi kelompok Terap. Alasan Tumenggung dan rerayo (tokoh) Orang Rimba di sana, pendidikan merupakan budaya luar dan tidak sesuai dengan mereka.(*)

sumber : http://www.jambi-independent.co.id 

Rabu, 06 Maret 2013

Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.
Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.
“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.
Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.
“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.
“Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.
Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.
“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.
“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .
“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak melakukannya.
“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.
Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.
Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.
Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.
Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.
“Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa , ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.
“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.
“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.
“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.
Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.
Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.
Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.
Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.
“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .
“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.
“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.
“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.
“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.
Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.
Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .
“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !” Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.
July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .
Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.
Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid
Update terakhir tentang penulis artikel: Bp Aryadi Noersaid saat ini tinggal di Depok, Saya sempat konfirmasi via SMS kepada penulis untuk memastikan dan meminta comment atau pernyataan dari beliau.
Setelah menunggu beberapa waktu saya mendapat respon dari Bp Aryadi Noersaid. Saya copy dari comment beliau. dan terima kasih pak respon kilatnya:
Aryadi Noersaid (aryadi17@yahoo.com)


Dari berita dari tribun joga yang juga mencari langsung ke narasumber resmi setelah kisah Sri Sultan Terkena Tilang dipekalongan. Ternyata Ngarsa Dalem ditilang di Semarang. Narasumber adalah Putera putri dari Bp Royadin. Berikut beritanya. baca selengkapnya di: http://jogjakini.wordpress.com/2012/04/12/sedikit-revisi-lokasi-kejadian-ketika-sri-sultan-hb-ix-terkena-tilang/

Minggu, 18 November 2012

Tubuh Kita adalah “Mesin” yang Menakjubkan


 

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Alloh Subhaanahu wa Ta’ala. Dia ucapkan: “Alhamdulillaah, segala puji bagi Alloh” dan ucapan yang sejenisnya. Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan.

Di dalam Ash-Shahiihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwasanya beliau berdiri shalat malam sampai kedua telapak kakinya bengkak-bengkak, maka dikatakan kepada beliau: Mengapa engkau melakukan ini dalam keadaan Alloh telah mengampuni seluruh dosa-dosamu yang dahulu maupun yang akan datang? Maka beliau menjawab: “Apakah aku tidak boleh untuk menjadi orang yang bersyukur?”



Saat ini, manusia selalu memimpikan untuk memiliki kekuatan luar biasa. tetapi sedikit yang kita tahu bahwa tubuh kita sendiri adalah sebuah mesin yang luar biasa dan dapat melakukan pekerjaan yang menakjubkan..

OTAK
Anda yang terdiri 80% air, memiliki 100.000.000.000 sel saraf yang mengirimkan sinyal dengan kecepatan 274 km per jam. menciptakan lebih banyak impuls listrik dari pada satu hari dari semua telepon di seluruh dunia yang di kumpulkan. Kekuatan pemrosesan otak Anda seperti komputer pentium 168.000mhz, yang merupakan perbandingan kasar karena otak Anda tidak digunakan secara kompleks. 20% dari oksigen yang Anda hirup masuk ke otak. Subhanallah

MATA
mata Anda bisa membedakan 500 tingkatan warna abu-abu, dan ukuran mereka selalu sama sejak lahir, sebuahmata manusia berkedip rata-rata 6.205.000 per tahun (berkedip benar-benar membersihkan bola mata kita) cara mata kita melihat, di tiru oleh pembuat kamera.

HIDUNG
hidung anda membau “stereo” aroma sinyal dari setiap perjalanan nosetril ke berbagai bagian otak yang membantu Anda untuk menentukan dari mana bau berasal.

MULUT
manusia rata-rata memproduksi 28.000 liter air liur dalam seumur hidup, yang cukup untuk mengisi 2 kolam renang. klo ukuran 1 kolam renang internasional FINA
Length :50 m (164 ft)
Width :25 m (82 ft)
Depth :2.0 m (6 ft 7 in) minimum
Volume :2,500 m3

JANTUNG
jantung Anda berdetak 40.000.000 kali setahun memompa 48.000.000 galon darah dalam waktu hidup rata-rata, namun hanya berbobot kurang dari 0,45 kg. jantung memiliki kekuatan yang cukup untuk menyemprotkan darah sejauh sembilan meter. dalam satu jam, jantung Anda bekerja cukup keras untuk menghasilkan energi setara untuk meningkatkan hampir satu ton bobot 0,9 meter dari tanah.

KULIT
dalam 2,5 sentimeter persegi kulit di sana terletak 3,6 meter dari serat saraf, 1.300 sel-sel saraf, 100 kelenjar keringat, tiga juta sel, dan 2,7 meter pembuluh darah. Kulit adalah organ terbesar dalam manusia dengan permukaan adalah sebesar 2,25 meter persegi.

TULANG
Adamantium adalah salahsatu logam terkuat di dunia, tetapi substansi yang paling kuat dalam tubuh kita adalah email dan tulang paha kita lebih kuat dari beton dan ini memiliki ruang hampa di dalam ny! Sebuah balok tulang ukuran kotak dapat menahan bobot sembilan ton . rata-rata orang dewasa memiliki 206 tulang dalam tubuh mereka.

ORGAN DALAM
tubuh Anda adalah toko farmasi yang mengandung belerang yg cukup untuk membunuh semua kutu pada anjing rata-rata, karbon yg cukup membuat 900 pensil, pottassium yg cukup untuk membuat meriam api mainan, lemak untuk membuat tujuh batang sabun, phosporus untuk membuat 2,200 match heads, besi yang cukup untuk menciptakan paku tiga inci dan air untuk mengisi tangki 40 liter. asam lambung pencernaan yg cukup kuat untuk melarutkan seng.

DARAH
seberapa jauh kau bisa berjalan?darah juga memiliki perjalanan jarak yang sangat panjang, sekitar 96.000 km dalam waktu hidup rata-rata, yang cukup untuk pergi ke seluruh dunia dua kali..

TIDUR
bahkan ketika Anda sedang tidur Anda melakukan hal-hal yang menakjubkan. satu dari delapan orang mendengkur dan satu dari sepuluh menggesekan gigi nya.

BERSIN
bersin pun membersih kan virus” yg mengganggu tubuh anda..

bahkan di saat anda bersin semua organ tubuh anda berhenti bekerja, termasuk JANTUNG

Subhaanallah, seorang muslim tidak boleh sekejap pun untuk melupakan syukur kepada Alloh. Mengapa? Tidakkah kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Alloh berikan kepada kita dalam keadaan kita sering terjatuh kepada kemaksiatan akan tetapi Alloh tutupi aib-aib kita. Untuk itu bersegeralah kembali dan taubat kepada-Nya serta kita minta kepada-Nya agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang pandai bersyukur. AAmiin.

Kamis, 08 November 2012

( RENUNGAN ) TANGISAN RASULULLAH SAW AKAN NASIB KAUM WANITA

Syaidina Ali ra suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab; "Pada malam aku di-isra'- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan didalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan. Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka," kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya."

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan muhrim dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya keatas ubun-ubunnya lalu ular dan kalajengking datang mengigit dan menyiksanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur'an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan didalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur'an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

Dalam sebuah hadist yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: "Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.." (HR Ahmad)
sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10151133516001840&id=109056501839